13 Mitos dan Fakta Seputar Impotensi

Written By Admin on Minggu, 03 Maret 2013 | 3.3.13

Ada beberapa mitos yang beredar di kalangan pria terkait masalah impotensi. Sebuah survei kesehatan seksual yang telah dilakukan Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita di Asia Pasifik, di Indonesia sendiri dilakukan pada 578 pria dan wanita pada bulan Mei sampai Juli 2008. 

Seperti dilansir dari AP SHOW Global Survey, Kamis (10/6/2010), berikut beberapa mitos seputar impotensi:

1. Mitos: Impotensi adalah hilangnya ketertarikan seks, atau kehilangan tenaga atau mandul

Fakta: Sebagian pria dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapat orgasme, dan mengalami ejakulasi cairan semen. Impotensi terkait dengan kemampuan membuat atau mempertahankan ereksi dan tidak berarti kehilangan keinginan dalam seksual atau menjadi mandul.

2. Mitos: Pria ingin selalu, dan selalu siap untuk melakukan hubungan seksual

Fakta: Pria selalu siap, mampu dan bisa melakukan hubungan seksual tidak sesederhana tampaknya. Dalam kehidupan nyata, kelelahan fisik atau berpikir keras mengenai pekerjaan dan keluarga bisa mempengaruhi gairah pria dan kegiatan seksualnya.

3. Mitos: 'Pria Sejati' tidak mengalami impotensi

Fakta: Banyak pria pada suatu waktu dalam kehidupannya akan mengalami impotensi. Hal ini dapat muncul seiring petambahan usia, ras atau etnis, perilaku budaya dan kebiasaan serta keyakinannya. Sesekali memiliki kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi bukan merupakan masalah. Tetapi jika persoalan ini terus berlanjut, maka akan mempengaruhi hubungan pribadi dan menjadi masalah bersama dengan pasangan.

4. Mitos: Impotensi adalah masalah pribadi

Fakta: Impotensi sesungguhnya sering terjadi pada siapapun. Menurut American Medical Association, 10% dari pria mengalami impotensi yang menetap. Sebagai tambahan, ada sejumlah pria yang tidak mengalami impotensi ternyata mengalami ereksi yang suboptimal.

5. Mitos: impotensi adalah lumrah dalam proses penuaan

Fakta: Impotensi tidak harus dianggap sebagai hal yang normal untuk semua pria usia berapapun. Sekalipun mungkin pria yang lebih senior membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terangsang dan mungkin membutuhkan stimulasi fisik.

Sekalipun impotensi kerap terjadi pada pria usia tua, tetapi bukan berarti impotensi adalah proses dari penuaan. Bagaimanapun, impotensi juga kerap terjadi pada pria yang berusia muda.

6. Mitos: Impotensi adalah 'berada di kepala'

Fakta: Sekalipun impotensi memiliki penyebab psikologis, misalnya karena cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, masalah dalam hubungan, perasaan terhadap pasangan dan depresi, tapi kini diketahui sekitar 80% permasalahan memiliki sebab yang berhubungan dengan masalah fisik.

7. Mitos: Impotensi adalah problem fisik semata

Fakta: Impotensi adalah masalah kompleks, gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial dan komponen fisik. Penyebab utama impotensi adalah fisik atau psikologis.

Problem fisik contohnya kondisi pembuluh darah, efek alkohol yang berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi saraf yang abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker dan merokok. Kondisi yang berkaitan dengan fisik ini bisa diobati. impotensi dengan kasus psikologis hanya sekitar 20%.

8. Mitos: Impotensi akan berlalu

Fakta: Impotensi adalah persoalan medis dengan solusi pengobatan. Sama halnya dengan terapi yang harus diterima untuk mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi, impotensi juga harus diobati. Bila dibiarkan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis, termasuk perasaan malu, kehilangan atau minder.

9. Mitos: Impotensi tidak berpengaruh pada kesehatan dan mulai belajar menerima kondisi tersebut

Fakta: impotensi bisa menjadi sumber stres emosi yang mengarah pada minder, kehilangan atau menurunkan rasa percaya diri, kecemasan, dan depresi.

10. Mitos: Impotensi hanya mempengaruhi pria

Fakta: Jika impotensi tidak diatasi dengan seksama, pasangan dalam berhubungan juga akan merasakannya. Kecenderungan untuk menghindari kontak seksual seringkali menyebabkan pasangan merasa tidak lagi dicintai, tidak diinginkan dan tidak menarik lagi.

11. Mitos: Pria harus mengunjungi dokter berulang kali sebelum akhirnya memulai terapi

Fakta: Dalam beberapa kasus, konsultasi tunggal mungkin merupakan hal yang terjadi pada pria yang langsung memulai terapi atas kasus impotensi yang dialaminya.

12. Mitos: Tidak ada gunanya mencari pengobatan karena impotensi tidak mudah diobati

Fakta: Pada sebagian besar kasus, impotensi bisa secara sukses diobati. Karena itu penting untuk para pria mencari pertolongan dokter, sehingga mereka bisa menolong diri sendiri, pasangan dan menyelamatkan hubungan dari kegagalan.

13. Mitos: Mencari pertolongan untuk kesulitan ereksi meliputi tes yang memalukan dan tidak nyaman

Fakta: Meskipun seringkali memalukan untuk pria membicarakan masalah seksual dengan dokternya, mencari pertolongan untuk impotensi bisa cukup bermanfaat. Dokter biasanya melaksanakan sejarah kesehatan seiring sejarah seksual, dan akan menanyakan beberapa hal terkait gaya hidup. Hanya beberapa pemeriksaan standar kesehatan yang biasanya dibutuhkan, seperti tes laboratorium darah dan urin. Tes ini membantu mengidentifikasi beberapa kasus medis yang mungkin membutuhkan terapi.

Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, dan berada dalam pengawasan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung atau diabetes dapat menurunkan risiko pria mengalami impotensi.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

impotensi tentunya masalah yang rumit yaa...informasinya sangat menarik sekali.